PC Lakpesdam NU Jombang
Senin - Jumat: +62 321 854131 | 09:00 - 17:00

MENJAGA KEMERDEKAAN DAN MEMBANGUN JIWA PAHLAWAN

JOMBANG-Membangunkan jiwa kepahlawanan dan kepedulian serta pengorbanan kepada diri sendiri mungkin tidak sulit, tapi membangunkan jiwa kepahlawanan dan kepedulian serta pengorbanan kepada keluarga dan masyarakat bisa luar biasa sulitnya.
Sayyidina Umar bin Khathab mengatakan: “Sejak kapan kalian memperbudak manusia, sedang ibu-ibu mereka melahirkan mereka sebagai orang-orang yang merdeka.”
Syech Musthofa Al-Ghalayini dalam karyanya Idhatun Nasyi’in juga menyampaikan: “Setiap bangsa memiliki ajal yang menjadi akhir (kematiannya), dan ajal setiap bangsa itu adalah ketika mereka kehilangan kemerdekaannya.”
Disebutkan dalam pembukaan UUD 1945, “atas berkat rahmat Allah rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya.” Kemerdekaan kita bukanlah hadiah dari Belanda dan Jepang, tapi kemerdekaan ini ditebus oleh seluruh rakyat Indonesia dengan cucuran darah, keringat, dan air mata.
Seluruh bangsa bersatu untuk menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak pernah terpikirkan apakah istrinya akan menjadi janda, anaknya menjadi yatim. Yang terpikir di benak para pahlawan hanyalah merdeka.
kemerdekaan untuk berkeyakinan, kemerdekaan untuk terpenuhinya kebutuhan dasar, dan kemerdekaan hidup tenang dan damai. Untuk meraih itu semua, mereka rela mengorbankan segalanya, mulai dari tenaga, pikiran, fisik, hingga nyawa mereka. Demikian pula yang dilakukan para pahlawan bangsa Indonesia.
Dalam sekala kecil, mungkin masih bisa miliki jiwa pengorbanan dalam diri. Sebagaimana orang tua berkorban untuk anak-anaknya. Lantas, apakah masih rela dan mau berkorban untuk orang lain, orang-orang di sekitar? .hidupkan kembali jiwa kepahlawanan, keluarga, sahabat, dan masyarakat.
Bangsa Indonesia saat ini sedang dilanda krisis kepemimpinan, krisis kepercayaan. Semua seolah diukur dengan kepentingan jangka pendek, sehingga politiklah yang menjadi panglima, keuntungan yang menjadi tujuan. yang terlalu picik dengan keadaan ataukah memang begitu adanya. Jika ada pemimpin di sekitar yang ingin memberikan contoh yang baik, sering berkata bahwa itu adalah pencintraan dan lain sebagainya. Apakah karena jiwa kepahlawanan dalam diri masyarakat sudah demikian terkikisnya ataukah kepentingan sesaat kmenghilangkan semua penilaian positif.
Ataukah jangan-jangandan ini yang paling ditakutkand ikarenakan sedikit sekali orang yang baik, sehingga kalau ada orang baik dianggap sebagai pencitraan dan sejenisnya.
Marilah sejenak kembali belajar sejarah tentang asbabun nuzul QS Al Ahzab: 28-30, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki keridhoan Allah dan Rosulnya serta (kesenangan) dinegeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.”
Dalam Tafsir Ibnu ‘Ashur dijelaskan tentang latar belakang turunnya ayat tersebut. Saat Bani Quraidlah berhasil ditaklukan, kaum Muslimin mendapatkan harta ghanimah yang sangat banyak setelah sebelumnya Bani Nadhir, dengan hasil fai’ yang sangat banyak.
Istri-istri Rasulullah menganggap beliau berada dalam keadaan kelonggaran harta, maka kemudian istri-istri Nabi meminta nafkah lebih kepada Rasulullah SAW.
Dan kemudian turunlah ayat tersebut yang menyindir istri-istri Nabi, apakah memilih kehidupan dunia atau kehidupan akhirat.
Belajar dari sejarah tersebut, seringkali bisa membangkitkan jiwa pengorbanan dan kepahlawanan, akan tetapi belum tentu demikian dengan orang-orang yang lain. Oleh karena itu, isi kemerdekaan dengan membangkitkan gelora jiwa kepahlawanan, pengorbanan dan kepedulian untuk kebaikan bersama. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kepada negeri tercinta ini keberkahan kebaikan dengan momentum kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang ke 71.

Leave a Reply