Di ruang sederhana berukuran 2x4 m2 dan berlantaikan tanah, anak-anak pemulung melakukan kegiatan belajar bersama. Raut keceriaan terpancar dari wajah polos mereka. awalnya hanya 7 anak yang ikut dalam kegiatan ini, namun kini jumlahnya menjadi 21 anak.Belum lama kami melakukan kegiatan belajar bersama dengan anak-anak pemulung di Gedangkeret, Desa Banjardowo, Kecamatan Jombang. Atas permintaan pemulung, saya bersama 4 orang pengurus Lembaga Kajian & Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) - NU Jombang, secara bergantian menemani aktifitas belajar anak-anak pemulung.
Dari proses belajar bersama yang berlangsung setiap malam hari ini, kami saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan mereka. Kami berharap mampu menemani mereka untuk menciptakan suasana baru (baca: kembali ke dunia anak yang hilang) dan keluar sejenak dari rutinitas hidup. Dari hasil pertemanan kami dengan anak-anak pemulung, banyak hal baru yang mampu mengusik sanubari.
Boleh dikata, kehidupan anak-anak pemulung sangat padat. Dunia anak-anak yang semestinya bisa mereka nikmati seolah hanya sebuah dongeng bagi mereka. Bayangkan saja, sepulang sekolah mereka harus membantu orang tua memilah-milah sampah hasil orang tua mereka memulung. Sesudah itu, anak-anak yang rata-rata masih SD ini harus mengasuh adik-adiknya. Dan memang, hampir tidak ada waktu untuk bermain menikmati dunia anak yang harusnya mereka dapatkan.
Itu masih soal kesempatan mereka menikmati kehidupan sebagai anak-anak. Hal lainnya, yakni dalam urusan belajar, anak-anak pemulung harus rela belajar sendiri tanpa bimbingan orang tua. Bukan karena ibu dan bapaknya tidak peduli, tetapi orang tua mereka tak punya pilihan waktu yang cukup untuk mendampingi anak-anak pemulung belajar. Seharian, para pemulung yang tinggal di sekitar lokasi Tempat Pembuangan (sampah) Akhir (TPA) harus menguras keringat dan tenaga untuk memungut sampah yang selanjutnya dijual demi keberlangsungan hidup anak-anak mereka.
Selain keterbatasan waktu untuk menemani anak-anak mereka belajar, pemulung juga mengalami kesulitan untuk belajar bersama anak-anaknya. Maklum saja, sebagian dari mereka memang tidak lancar baca tulis, bahkan sama sekali buta huruf. Mendatangkan guru privat bagi anak-anak mereka? Sepertinya, hal itu hanya sekedar hayalan bagi pemulung. Memenuhi kebutuhan hidup keluarga saja susah apalagi mendatangkan guru privat atau mengikutkan anak-anaknya pada lembaga bimbingan belajar.
Selasa (4/2) malam, saya berkesempatan menemani anak-anak pemulung belajar bersama. Salah satu yang dibahas malam itu adalah cerita tentang ”Anak Elang”. Ceritanya, ada sebuah telur elang yang dierami oleh induk ayam hingga akhirnya menetas. Sang elang, selanjutnya diasuh oleh induk ayam, sehingga mulai dari cara makan dan berjalan semuanya seperti ayam.
Singkat cerita, pada suatu hari elang melihat hewan yang bisa terbang. Elang yang selama hidupnya dalam asuhan ayam pun membayangkan, ”seandainya saya bisa terbang saya akan keliling dunia”.
Hingga sang elang meninggal, dia tidak pernah mewujudkan apa yang dibayangkannya. Elang berfikir, tidak mungkin ayam bisa terbang. Dia tidak pernah menyadari bahwa sebenarnya elang itu punya sayap dan bisa terbang.
”Kenapa elang tidak tahu kalau dia punya sayap?” tanya saya kepada anak-anak pemulung seusai cerita. ”Soalnya tidak ada yang memberi tahu dan tidak ada yang ngajari bahwa sebenarnya elang itu bisa terbang,” ujar salah seorang anak menimpali pertanyaanku.
Pesan dari cerita ”Anak Elang” sebenarnya adalah setiap individu harus mempunyai kemampuan yang lebih dan berani keluar dari cara berfikir dilingkungannya berada. ”Jadi, walaupun anak pemulung harus berani bermimpi dan bercita-cita tinggi,” pesanku kepada anak-anak.
Diakhir pertemuan, saya berdiskusi dengan anak-anak pemulung soal cita-cita mereka. Hampir semua ingin bercerita tentang cita-citanya dan mereka bercerita dengan suara yang lantang, ”saya mau jadi dokter”, ”saya mau jadi Guru”, ”saya mau jadi TNI”, ”saya mau jadi pemain sepak bola”, ”saya mau jadi bosnya pemulung (pengepul)”, ”pokoknya kalau besar saya bekerja dan dapat uang,” kata mereka dengan penuh semangat.
Terharu, sekaligus prihatin mendengar cita-cita yang diinginkan mereka. Hati saya tercabik-cabik melihat realitas yang ada sekarang. Sepertinya, mimpi mereka hanya bisa berlaku bagi anak-anak orang kaya. Apa mungkin cita-cita mereka tercapai karena melihat pendidikan di Indonesia yang masih terlalu mahal bagi mereka? Sementara, ditengah desakan kondisi ekonomi, orang tua mereka masih harus berkutat pada perjuangan untuk mengais rezeki demi sesuap nasi.
Tetapi, saya dan anak-anak tetap semangat untuk terus ”bermimpi” dan meraih cita-cita. Kuyakinkan pada anak-anak, ”Mimpi adalah kunci, untuk kita mengartikan dunia, Berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya.” (Ms/Ari)
Penulis: Arifah Anas, Pengurus Lakpesdam-NU Jombang






