Jombang – Perjanjian pasar bebas, ASEAN-China Free Trade Agreement (FTA) dinilai kurang memberi keuntungan bagi perkembangan industri di Kabupaten Jombang. Menurut pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jombang, hal itu disebabkan sistem perekonomian yang kurang mendukung.
Tomy Sugiono, Komite Perdagangan dan Distribusi Kadin Jombang mengatakan, untuk menghadapi pasar bebas antar Negara banyak sistem yang harus dibenahi oleh Pemerintah Daerah. Diantaranya adalah dengan mengutamakan ketahanan pangan, menggunakan sistem ekonomi kerakyatan atau ekonomi yang berlandaskan pada pancasila.
Tomy mengaku tidak terkejut jika saat berlakunya pasar bebas, para pengusaha lokal tidak mampu bersaing dengan produk dari china. “Pengusaha lokal memang pasti sulit bersaing dengan produk China, karena mereka bisa menjual murah. Pemerintah juga tidak menyediakan bahan baku yang murah, belum lagi tidak dibekali dengan ketrampilan desain dan pasar yang kurang,” ujarnya, Kamis (21/1) siang.
Meski demikian, Tomy berharap agar pengusaha local tidak takut dengan serangan produk asal China. “Jika ingin bersaing dengan china, pengusaha harus mulai berfikir dan belajar usaha seperti mereka,” lanjut dia.
Komite SDM dan Perdagangan Kadin Jombang, Asrofi menilai, pasar Indonesia sebenarnya telah lama diserang oleh produk-produk asing. Namun, hal itu baru disadari saat perjanjian perdagangan bebas antar Negara diberlakukan. (Er)






