Derita Balita Penderita Hydrocepallus Tak banyak yang bisa dilakukan puput (4), sebagaimana kehidupan anak-anak seusianya. Bocah malang yang divonis menderita Hydrocepallus ini hanya bisa berbaring lemas dengan sesekali melirikkan matanya ke kiri dan kanan.
Harta benda sudah ludes untuk biaya pengobatan. Berbagai upaya penyembuhan pun sudah dilakukan. Namun, hingga kini kesembuhan bagi Puput, putri kesayangan pasangan Wiwik Wahyuningsih dan Slamet Mulyono tak kunjung datang.
Hydrocepallus yang diderita Puput, memaksa bocah empat tahun ini tak bisa menikmati keceriaan sebagaimana yang dirasakan anak-anak seusianya. Ya, sejak divonis menderita Hydrocepallus, bocah asal Desa Ngepeh, Mojowarno, Jombang ini hanya bisa tergolek lemas di atas ranjang. Hanya bola matanya yang sesekali digerakkan untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Keganjilan pada diri Puput sebenarnya sudah dirasakan kedua orang tuanya sejak putrinya berumur 3 bulan. Namun, minimnya pemahaman tentang penyakit Hydrocepallus membuat orang tua Puput tak terlalu risau dan menganggap keanehan tersebut adalah gejala penyakit biasa.
Menurut Wiwik Wahyuningsih, ibunda Puput, keanehan pada diri puput makin kelihatan tatkala usia putri keduanya ini terus bertambah. Seiring dengan bertambahnya usia, kepala Puput terus mengalami pembesaran tiga kali lebih besar dibanding bocah se-usianya. Rasa khawatir pun mulai muncul dalam benak kedua orang tua Puput. “Dulu saya kira hanya penyakit biasa, jadi ya tidak saya bawa ke dokter. Tapi lama-lama kepalanya kok tambah besar,” tutur Wiwik, Minggu (24/10).
Menyadari kondisi putrinya ini, Wiwik Wahyuningsih bersama suaminya Slamet Mulyono lantas memeriksakan Puput ke dokter. Hasil pemeriksaan dokter begitu mengejutkan bagi pasangan Wiwik Wahyuningsih-Slamet Mulyono. Pada bagian kepala Puput terdapat cairan dan Putri keduanya ini divonis menderita Hydrocepallus. “Setelah periksa dokter, saya baru tahu penyakit apa yang diderita anak saya,” kata Wiwik.
Wiwik menuturkan, akibat pembesaran kepala yang dialami Puput, pupil kedua matanya mulai mengecil karena terdesak pembesaran tulang tengkorak kepala. Selain itu, lanjut Wiwik, berdasarkan hasil pemeriksaan rumah sakit dr Soetomo Surabaya, Puput teridentifikasi tidak mempunyai otak kecil.
Berbagai upaya medis dan non-medis sudah dilakukan keluarga Puput. Namun, sejauh ini kesembuhan bagi Puput tak juga datang. Harta benda untuk biaya pengobatan Puput nyaris tak tersisa. Satu-satunya yang tersisa dari keluarga Puput adalah tanah dan rumah yang kini mereka tinggali.
Tak ada pilihan lain bagi bagi pasangan Wiwik Wahyuningsih-Slamet Mulyono. Sebagai buruh tani, Slamet Mulyono hanya bisa pasrah dengan situasi yang menimpa keluarganya. Selain berharap kepedulian pemerintah dan uluran tangan para dermawan, orang tua Puput berencana menjual rumah beserta tanahnya untuk biaya pengobatan putrinya. “Sebagai biaya, rumah ini akan kami jual,” kata Mulyono. (Muhammad Syafi’i/Suara Warga)






