SEJARAH BERDIRI
LAKPESDAM-NU (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia-Nahdlatul Ulama) Jombang adalah sebuah organisasi non pemerintah independen yang didirikan oleh Nahdlatul ‘Ulama cabang Jombang Jawa Timur pada tanggal 26 Januari 1990, sebagai salah satu aktualisasi diri dan agen tranformator untuk melakukan pengkajian, pembelaan, penguatan rakyat pada komunitas masyarakat yang bervariasi pemahaman keagamaan, wawasan sosial, wawasan kenegaraan dan wawasan politik.
Sebagai sebuah organisasi non-pemerintah LAKPESDAM-NU Jombang ingin membangun dirinya melalui partisipasi aktif masyarakat dengan memperkuat segala kemampuan dan pemahaman yang dimiliki, yakni berangkat dari pemahaman bahwa: masyarakat berhak untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengaktualisasikan diri agar dapat berfikir untuk kemaslahatan ummat secara menyeluruh. Untuk merealisasikan usaha-usaha penguatan rakyat, diaplikasikan dalam bentuk program-program organisasi yang telah digariskan melalui schedule dan materi silabi yang secara garis besar berupa pendayagunaan warga untuk melakukan partisipasi aktif dalam bentuk-bentuk : pertama, di pendidikan formal maupun non formal, kursus maupun pendidikan di lingkungan keluarga. Kedua, dibidang pengembangan organisasi melalui sistem pendidikan dan latihan seperti latihan kepemimpinan, motivator dan latihan mengelola organisasi lainya.
Ketiga, Jenis-jenis kegiatan LAKPESDAM-NU Jombang yang berkaitan dengan sektor-sektor tertentu seperti sektor agama, sektor budaya dan politik, ekonomi dan industri, pertanian dan kehutanan, kependudukan dan lingkungan hidup serta jasa kemasyarakatan lainnya. Jenis kegiatan LAKPESDAM-NU dilakukan melalui sisitem diklat kursus maupun sistem pendidikan formal (sekolah). Keempat, Pengembangan Sumber Daya Manusia yang berkaitan dengan profesi, keahlian dan spesialisasi tertentu bisa dilakukan melalui diklat ataupun pendidikan formal (sekolah) khususnya bagi pekerja sosial (community organizer) di tingkat lokal.
DISKRIPSI
Nahdlatul ‘Ulama (NU) sebagai sebuah jam’iyah (organisasi massa) lahir dari wawasan keagamaan yang bertujuan memajukan paham Islam Ahlus Sunnah Waljama’ah. Aliran pemikiran Islam Ahlus Sunnah Waljama’ah dibidang sosial kemasyarakatan berlandaskan pada prinsip-prinsip keagamaan yang bercorak ta’awun (toleran) dan bersifat tawasud (moderat). Prinsip-prinsip sosial kemasyarakatan ini memberikan ruang gerak lebih luas kepada Nahdlatul ‘Ulama (NU) untuk merespon berbagai perubahan dilingkungannya, dan sangat toleran terhadap berbagai perbedaan yang berkembang dalam masyarakat plural seperti di Indonesia, tanpa terjebak pada ekstrim kiri dan kanan yang secara fundamentalis sering kali merusak dimensi-dimensi solidaritas sosial dan kemanusiaan di indonesia.
Responsi yang akseleratif, akurat dan obyektif atas kompleksitas problema empirik masyarakat-bangsa kiranya tidak cukup lagi hanya dengan mengandalkan peran kyai (ulama) semata, sudah barang tentu membutuhkan tenaga-tenaga profesional yang terampil, visibel dan kapabel dalam memberikan solusi alternatif yang konsepsional sistematis dan organis. Disinilah pendirian LAKPESDAM sebagai sebuah organisasi yang independen dan otonom bagi NU (Nahdlatul ‘Ulama) menemukan pikiran urgensitasnya.
ARAH
Secara Individu
Arah capaian secara individu diletakkan dalam prespektif manusia dinamis” yang selalu berprakarsa dan melakukan ikhtiar: manusia yang bergerak ke depan, berubah dan berkembang menuju ke tingkat yang lebih sempurna (kamil). Berkembang dalam hal ini adalah kunci bagi indikator capaian tujuan, sedangkan kamil adalah tujuan akhir. Citra manusia maju dan berkembang ditandai oleh prestasi yang bermakna, baik dan berguna bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan lingkungannya, dari waktu ke waktu, selama proses menuju kamil. Jumlah total dari prestasi tersebut akan menunjuk pada tingkat kesempurnaan manusia. Dengan demikian, maju dalam perspektif LAKPESDAM-NU Jombang sama sekali tidak bisa menerima dalam kondisi stagnasi (berhenti/mandeg).
Secara Kolektif
Sedangkan secara kolektif capaian diletakkan dalam perspektif “Mabadi Khaira Ummah”. Yaitu masyarakat ideal yang digambarkan sebagai masyarakat warga (civil society) masa depan. Dalam konteks semuanya ini demi peningkatan mutu dan tujuan yang diembannya. Jadi produktif adalah kunci dari indikator capaian tujuan kolektif (organisasi), sedangkan “Khaira Ummah” adalah tujuan akhir.
VISI
Terwujudnya tata kehidupan yang manusiawi bagi rakyat yang dilemahkan (Mustadl’afin) menuju masyarakat yang kritis, egaliter, mandiri, toleran, terbuka, adil dan sejahtera di tengah kuatnya hegemoni global.
MISI
- Membangun kesadaran kritis dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, beragama di tingkat lokal, nasional dan internasional.
- Memfasilitasi proses kemandirian rakyat yang dilemahkan melalui pendidikan politik, pemberdayaan sosial, ekonomi dan budaya.
- Memperkuat media komunitas sebagai alat rakyat untuk memperjuangkan hak-haknya.
- Memperkuat jaringan kerja kampanye dan advokasi untuk pemenuhan kebutuhan dasar dan keadilan akses sumberdaya.






